<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>T.A.U.B.A.T</title>
	<atom:link href="http://pelakukesalahan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com</link>
	<description>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Setiap bani Adam berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.” (Hasan, dikeluarkan oleh At Tirmidzi)</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Jul 2010 02:21:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pelakukesalahan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>T.A.U.B.A.T</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pelakukesalahan.wordpress.com/osd.xml" title="T.A.U.B.A.T" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pelakukesalahan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hakikat Taubat</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/07/05/hakikat-taubat/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/07/05/hakikat-taubat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 02:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[hakikat taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaahir rahmaanir rahiim Hakekat Taubat Taubat itu tidaklah sekedar diucapkan secara lisan saja tanpa disertai hati yang tulus penu penyesalan dan tanpa upaya untuk beri’tikad baik. Karena taubat itu akan diterima oleh Allah bila telah memenuhi syarat-syaratnya. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Imam An Nawawi rahimahumullah dalam kitabnya Riyadhush Shalihin: “Para ulama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=74&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Bismillaahir rahmaanir rahiim<br />
</strong></p>
<p><strong>Hakekat Taubat</strong></p>
<p>Taubat itu tidaklah sekedar diucapkan secara lisan saja tanpa disertai hati yang tulus penu penyesalan dan tanpa upaya untuk beri’tikad baik. Karena taubat itu akan diterima oleh Allah bila telah memenuhi syarat-syaratnya.</p>
<p><img class="alignleft" title="pintu taubat" src="http://tholib.files.wordpress.com/2007/09/taubat1.jpg?w=395&#038;h=263" alt="" width="395" height="263" />Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Imam An Nawawi rahimahumullah dalam kitabnya Riyadhush Shalihin: “Para ulama mengatakan: Bertaubat dari setiap dosa hukumnya wajib, jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia, maka syaratnya ada tiga:</p>
<ol>
<li>Petama; hendaknya dia menjauhi maksiat tersebut,</li>
<li>kedua; hendaknya dia menyesali perbuatan tersebut,</li>
<li>ketiga; hendaknya dia bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut selama-lamanya. Jika hilang salah satu syarat-syarat tersebut di atas, maka tidak sah taubatnya.</li>
</ol>
<p>Jika maksiat tadi berkaitan dengan manusia, maka syaratnya ada empat. Yaitu ketiga syarat di atas dan ditambah yang keempat; hendaknya dia membebaskan diri (mengembalikan) hak orang tersebut. Jika berupa harta atau sejenisnya, maka dia harus mengembalikannya ….”</p>
<p><span id="more-74"></span>Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menambahkan syarat berikutnya, yakni hendaknya taubat itu dilakukan pada waktu-waktu masih diterimanya taubat. Yaitu selama nyawa masih belum sampai di kerongkongan (sakratul maut) dan selama matahari belum terbit dari barat (menjelang hari kiamat).</p>
<p>Allah berfirman (artinya):</p>
<p>“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejelekan yang hingga apabila datang ajal kepada salah seorang di antara mereka, ia mengatakan: Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.” (An Nisa’ : 18 )</p>
<p>Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ</p>
<p>“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai kerongkongan.” (HR. At Tirmidzi no. 3537, dari sahabat Ibnu umar)</p>
<p>Dan sabdanya:</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ</p>
<p>“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim no. 2703)<br />
Wahai saudaraku, sebenarnya hakekat taubat itu dapat mendorong orang yang bertaubat untuk memulai dan memperbanyak amalan-amalan shalih. Oleh karena itulah, Allah banyak menggandengkan taubat dengan amal shalih di dalam Al Qur’an. Diantaranya firman Allah (artinya): “Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amalan shalih, maka sesungguhnya dia itulah yang bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Al Furqan: 71)</p>
<p><strong>Keutamaan Taubat</strong><br />
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan keutamaan yang sangat besar kepada siapa saja dari hamba-Nya yang mau bertaubat dan kembali kepada kebenaran, di antaranya:<br />
<strong>1. Penghapus dosa dan diganti dengan kebaikan</strong></p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Maka pasti Rabb kalian menghapuskan kesalahan-kesalahanmu.” (At Tahrim: 8)</p>
<p>“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amalan yang shalih, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Furqan: 70)</p>
<p><strong>2. Mendapat keberuntungan di dunia dan akhirat</strong></p>
<p>Sebagaimana firman Allah (artinya): “Bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu mendapatkan kemenangan.” (An Nur: 31)</p>
<p><strong>3. Mendapat kecintaan dari Allah</strong></p>
<p>Allah telah menegaskan dalam firman-Nya (artinya): “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al Baqarah: 222)</p>
<p><strong>4. Diturunkannya rizki dan barakah</strong></p>
<p>Sebagaimana yang ditegaskan dalam firman Allah (artinya): “Dan hendaknya kalian memohon ampunan dari Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (memperoleh balasan) keutamaannya.” (Hud: 3)</p>
<p><strong>5. Penghalang dari adzab Allah</strong></p>
<p>Allah berfirman (artinya): “Dan tidaklah Allah mengadzab mereka, sedang mereka terus beristighfar (memohon ampun).” (Al Anfal: 33)</p>
<p>Sebaliknya, Allah mengancam bagi siapa yang enggan untuk bertaubat kepada-Nya, dengan firman-Nya (artinya): “Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (At Taubah: 74)</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=129">http://www.assalafy.org/mahad/?p=129</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=74&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/07/05/hakikat-taubat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tholib.files.wordpress.com/2007/09/taubat1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pintu taubat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah dari Wudhu&#8217;</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/05/18/hikmah-dari-wudhu/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/05/18/hikmah-dari-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 00:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca yang mulia, wudhu’ merupakan suatu amalan yang kerap kali kita lakukan. Tata caranya cukup ringkas dan praktis. Namun mengandung keutamaan yang besar. Sehingga tidak boleh kita memandangnya dengan sebelah mata. Karena seluruh syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam terkandung padanya hikmah dan manfa’at. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya Allah tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=68&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="kran" src="http://an4lisa.files.wordpress.com/2009/01/air1.jpg?w=300&#038;h=400" alt="" width="300" height="400" />Para pembaca yang mulia, wudhu’ merupakan suatu amalan yang kerap kali kita lakukan. Tata caranya cukup ringkas dan praktis. Namun mengandung keutamaan yang besar. Sehingga tidak boleh kita memandangnya dengan sebelah mata. Karena seluruh syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam terkandung padanya hikmah dan manfa’at. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):<br />
“Sesungguhnya Allah tidak akan menganiaya (siapa pun) walau menzhalimi sekecil dzarrah (sekecil apapun), dan jika ada kebajikan walau sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan pahala yang besar.” (An Nisaa’: 40)</p>
<p>Seperti halnya dengan wudhu’, meski amalan ini terkesan ringan dan ringkas, tetapi memiliki keutamaan yang besar tiada tara. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala janjikan pada ayat diatas. Berikut ini kami sebutkan beberapa keutamaan wudhu’, diantaranya:</p>
<p><strong> 1. Pembersih dari Noda-Noda Dosa dan                  Penambah Amal Kebajikan</strong><br />
Perlu kita sadari, bahwa manusia itu bukanlah makhluk yang sempurna, bahkan Allah subhanahu wata’ala sebagai Sang Khaliq (Pencipta) mensifati manusia dengan sifat yang sering lalai dan bodoh, sehingga sering terjatuh dalam perbuatan dosa dan kezhaliman. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):<br />
“Sesungguhnya manusia itu amat aniaya (zhalim) dan amat bodoh.” (Al Ahzab: 72) Ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dari sahabat Anas bin Malik:</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic,Arial;font-size:large;"> كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ </span></p>
<p>“Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat kepada-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad Darimi)</p>
<p>Akan tetapi, dengan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang amat luas, Allah subhanahu wata’ala memberikan solusi yang mudah untuk membersihkan diri dari noda-noda dosa diantaranya dengan wudhu’. Hingga ketika seseorang selesai dari wudhu’ maka ia akan bersih dari noda-noda dosa tersebut.<br />
Dari shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi                  wasallam bersabda:<br />
“Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim no. 244).</p>
<p>Subhanallah… sebuah rahmat dan kasih sayang yang sangat besar tiada tara yang diberikan Sang Rabbul ‘Alamin kepada para hamba-Nya.</p>
<p><strong> 2. Anggota Wudhu’ Akan Bercahaya Pada                  Hari Kiamat</strong><br />
Pada hari kiamat nanti, umat Nabi Muhammad Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam akan terbedakan dengan umat yang lainnya dengan cahaya yang nampak pada anggota wudhu’. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><span id="more-68"></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic,Arial;font-size:large;"> إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ</span></p>
<p>“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)<br />
dalam riwayat yang lain:<br />
Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Seraya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memilki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kuda-kuda yang yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para shahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu’ mereka.” (HR. Mslim no. 249)</p>
<p>Dalam hadits diatas menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang akan bercahaya nanti pada hari kiamat itu disebabkan karena amalan wudhu’. Tentunya, siapa yang tidak pernah berwudhu’, maka bagaimana mungkin dia akan bercahaya yang dengan tanda itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan mengenali sebagai umatnya?</p>
<p><strong> 3. Mengangkat Derajat Disisi Allah subhanahu                  wata’ala</strong><br />
Semulia-mulia derajat adalah derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Adapun seseorang yang meraih derajat tinggi dihadapan manusia itu belum tentu ia berada pada derajat tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Maka dengan wudhu’ yang sempurna akan dapat mengangkat derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya! Para shahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang disebut dengan ar ribath.” (HR. Muslim no. 251)</p>
<p>Selain wudhu’ memiliki keutamaan yang besar, wudhu’ juga memilki peranan dan pengaruh penting pada amalan yang lainnya.<br />
Coba perhatikan pada shalat lima waktu atau shalat sunnah lainnya yang kita kerjakan! Tidak akan sah shalat jika tanpa berwudhu’ terlebih dahulu. Karena wudhu’ merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Sebagaiamana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic,Arial;font-size:large;"> لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ</span></p>
<p>“Tidaklah Allah menerima shalat seseorang apabila ia berhadats hingga dia berwudhu’.” (HR Al Bukhari no 135 dan Muslim no 225 dari sahabat Abu Hurairah)<br />
Demikian pula ijma’ (kesepakatan) para ‘ulama bahwasanya shalat tidak boleh ditegakkan kecuali dengan berwudhu’ terlebih dahulu, selama tidak ada udzur untuk meninggalkan wudhu’ tersebut (Al Ausath 1/107).</p>
<p>Berikut ini akan kami paparkan beberapa waktu disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu’. Dengan ini kita akan mengetahui betapa tinggi peranan dan pengaruh dari sebuah amalan wudhu’. Sehingga kita tidak menganggapnya enteng. Diantara waktu yang disunnahkan untuk berwudhu’, yaitu:</p>
<p><strong> 1. Berwudhu’ Ketika Hendak Pergi ke                  Masjid</strong><br />
Termasuk sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ sebelum berangkat shalat berjama’ah ke masjid. Yang memiliki pengaruh (nilai) yang lebih dibanding tidak berwudhu’ sebelumnya. Yaitu Allah subhanahu wata’ala menjadikan barakah pada setiap langkah kaki kanan maupun kiri berupa pengahusan dosa dan penambahan pahala. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
“Apabila seorang dari kalian berwudhu’, lalu ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi ke masjid karena semata-mata hanya untuk melakukan shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kaki kirinya melainkan terhapus kejelekan darinya dan dituliskan kebaikan bersama langkah kaki kanannya hingga masuk masjid.” (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir dari shahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 454)</p>
<p><strong> 2. Menyentuh Mushaf Al Qur’an</strong><br />
Al Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai kitab suci umat Islam. Dalam rangka memulikan Al Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah) maka disunnhakan berwudhu’ sebelum memegang kitab suci Al Qur’an ini. Al Imam Ath Thabrani dan Al Imam Ad Daraquthni meriwayatkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari shahabat Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu:</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:large;">لاَتَمُسُّ القُرآنَ إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ</span></p>
<p>“Janganlah kamu menyentuh Al Qur’an kecuali                  dalam keadaan suci”.<br />
Bagaimana jika hanya membacanya saja tanpa menyentuhnya, apakah hal ini juga disunnahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Ya, hal itu disunnahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana sabdanya:<br />
“Sesungguhnya aku tidak menyukai berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dari sahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani).<br />
Tentunya, membaca Al Qur’an adalah semulia-mulia dzikir kepada                  Allah subhanahu wata’ala.</p>
<p><strong>3. Berwudhu’ Ketika Hendak Tidur</strong><br />
Termasuk sunnah Rasulullah adalah berwudhu’ sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim dalam kondisi suci pada setiap kedaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur. Hingga bila memang ajalnya datang menjemput, maka diapun kembali kehadapan Rabb-Nya dalam keadaan suci.</p>
<p>Dan sunnah ini pun akan mengarahkan pada mimpi yang baik dan terjauhkan diri dari permainan setan yang selalu mengincarnya. (Lihat Fathul Bari 11/125 dan Syarah Shahih Muslim 17/27)<br />
Tentang sunnah ini, Rasulullah telah menjelaskan dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari sahabat Al Barra’ bin ‘Azib, bahwasanya beliau berkata:<br />
“Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah sebagaimana wudhu’mu untuk shalat.” (HR. Al Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)<br />
Lebih jelas lagi, dari riwayat shahabat Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
“Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dalam keadaan dengan berdzikir dan bersuci, kemudian ketika telah terbangun dari tidurnya lalu meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan mengabulkannya.” (Fathul Bari juz 11/124)</p>
<p>Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim meneladaninya. Bahkan ketika beliau terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudhu’ lagi sebelum kembali ke tempat tidurnya. Sebagaimana yang diceritakan Abdullah Bin Abbas radhiallahu ‘anhuma:<br />
“Bahwasanya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk menunaikan hajat. Kemudian beliau membasuh wajah dan tangannya (berwudhu’) lalu kembali tidur.” (HR. Al Bukhari no. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4217)</p>
<p><strong> 4. Berwudhu’ Ketika Hendak Berhubungan                  Dengan Istri</strong><br />
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan bimbingan bagi para pasutri (pasangan suami istri) ketika hendak bersetubuh. Hendaknya bagi pasutri berdo’a sebelum melakukannya, dengan doa’ yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:large;">بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا </span></p>
<p>“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkan (gangguan) setan terhadap apa yang Engkau rezikan kepada kami.” (HR. Al Bukhari no. 141)<br />
Kemudian ketika sudah usai dan ingin mengulanginya lagi maka hendaknya keduanya berwudhu’ terlebih dahulu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang telah berhubungan denga istrinya, kemudia ingin mengulanginya lagi maka hendaklah berwudhu’ terlebih dahulu.” (HR. Muslim no 308, At Tirmidzi, Ahmad dari Abu Sa’id Al Khudri dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ats Tsamarul Mustathob hal.5)<br />
Dengan tujuan agar setan tidak ikut campur dalam acara yang sakral ini dan bila dikarunia anak, maka setan tidak mampu memudharatkannya.</p>
<p>Para pembaca, bila kita baca biografi para ‘ulama, maka kita dapati mereka amat bersungguh-sungguh menjaga wudhu’nya dalam setiap keadaan. Sebagai contoh, Al Imam Asy Syathibi. Beliau adalah seorang yang buta, akan tetapi tidaklah beliau duduk disuatu majlis ilmu, kecuali beliau selalu dalam keadaan suci. Bahkan diantara ‘ulama ada yang tidak mau membaca hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hingga mereka berwudhu’ terlebih dahulu. Bukan karena mereka berpendapat wajibnya berwudhu’ ketika hendak membaca hadits, akan tetapi yang mendasari hal itu adalah kesungguhan mereka untuk memuliakan ilmu dan untuk mendapatkan keutamaan yang besar dalam wudhu’.</p>
<p>Akhir kata, wudhu’ bukanlah amalan yang remeh bahkan amalan yang besar disisi Allah subhanahu wata’ala. Sehingga mendorong kita untuk selalu dalam kondisi suci (berwudhu’) dan berupaya bagaimana berwudhu’ dengan sempurna yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka ikutilah pada edisi-edisi mendatang yang insya Allah akan menampilkan sebuah tema menarik tentang taca cara wudhu’ yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=68&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/05/18/hikmah-dari-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://an4lisa.files.wordpress.com/2009/01/air1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kran</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuduhlah Akal Kalian!</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/04/15/tuduhlah-akal-kalian/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/04/15/tuduhlah-akal-kalian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 12:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[tabi'in]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaahi -r rahmaani -r rahiim Yazid al-Faqir (si bungkuk, tabi’in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan: Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=64&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillaahi -r rahmaani -r rahiim</p>
<p>Yazid <em>al-Faqir</em> (si bungkuk, tabi’in ini dijuluki demikian  karena tulang punggungnya cidera) menuturkan:</p>
<p><img class="alignleft" title="tundukanlah akal kalian" src="http://snhuk.co.uk/shop/images/Akal-2-1-bronze.jpg" alt="" width="268" height="172" />Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat <strong>sekte  Khawarij</strong> -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di  neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar  darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak  berangkat menunaikan ibadah haji.  Kemudian, kami pun keluar di hadapan  orang-orang -sembari menyerukan pemikiran <a href="http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-1.html">Khawarij </a>dan menghasut orang-orang untuk mengikutinya-.</p>
<p>Ketika kami melewati Madinah, kami bertemu di sana dengan Jabir bin  Abdullah -seorang sahabat Nabi- yang sedang menuturkan hadits dari  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada sekelompok  orang sambil dia duduk bersandar kepada sebuah tiang. Ketika itu, dia  menyebutkan hadits tentang <em>al-Jahannamiyun</em> (yaitu orang-orang  yang dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke surga).</p>
<p>Aku pun (Yazid) berkata kepadanya,</p>
<p><em>“Wahai Sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kalian ceritakan ini?  Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa  yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka Engkau benar-benar telah  menghinakannya.” (QS. Ali Imran: 192). Allah juga menyatakan (yang  artinya), “Setiap kali mereka -penduduk neraka- ingin keluar darinya  maka mereka pun dikembalikan lagi ke dalamnya.” (QS. as-Sajdah: 20).  Lalu apa-apaan yang kalian ucapkan tadi?”. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jabir pun menjawab, <em>“Apakah Engkau membaca al-Qur’an?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.”</em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Apakah kamu pernah mendengar (di dalam al-Qur’an)  mengenai maqam/kedudukan agung yang dimiliki oleh Muhammad ‘alaihis  salam, yaitu yang beliau dibangkitkan oleh Allah di atasnya (maksudnya  adalah syafa’at Nabi kepada umatnya kelak di akherat)?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.” </em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Sesungguhnya hal itu -yang aku sampaikan-  merupakan kedudukan terhormat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang dengan sebab itu Allah berkenan mengeluarkan siapa saja yang ingin  dikeluarkan-Nya -yaitu semua orang beriman-.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yazid berkata:</p>
<p>Kemudian Jabir menceritakan kejadian diletakkannya jembatan/shirath  -di atas neraka- dan bagaimana keadaan orang-orang yang berjalan di  atasnya, namun aku khawatir tidak hafal dengan baik rentetan ceritanya.  Yang jelas, dia menceritakan bahwa <strong>ada suatu kaum yang keluar  dari neraka yang sebelumnya mereka berada di dalamnya</strong>.</p>
<p>Dia -Jabir- berkisah, <em>“Mereka itu keluar darinya dalam keadaan  seperti pucuk-pucuk benih tanaman wijen -yang menghitam karena tersengat  sinar matahari- (hal itu disebabkan tubuh mereka terbakar di dalam  neraka, sebagaimana diceritakan dalam sebagian riwayat). Kemudian mereka  masuk ke dalam sebuah sungai di antara sungai-sungai yang ada di surga  dan mandi di dalamnya. Kemudian mereka pun keluar -dalam keadaan putih  bersih- seperti lembaran-lembaran kertas.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Setelah mendengar -hadits- itu, maka kami pun rujuk -dari pendapat  kami-. Kami berkata, <em>“Sungguh celaka kalian ini -maksudnya adalah  diri mereka sendiri- apakah kalian mengira orang tua ini (yaitu Jabir  bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam?”</em>.</p>
<p><span id="more-64"></span></p>
<p>Setelah itu, kami pun  kembali pulang -seusai menunaikan ibadah  haji-. Demi Allah, tidak ada di antara kami yang tetap berkeras untuk  keluar (memberontak sebagaimana Khawarij) kecuali hanya satu orang.</p>
<p>Demikianlah isi kisah itu, atau sebagaimana yang disampaikan oleh Abu  Nu’aim -seorang guru dari gurunya Imam Muslim yang meriwayatkan hadits  ini-.</p>
<p>(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/323-324])</p>
<p>Kisah ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kewajiban mengimani adanya neraka dan siksaan pedih yang ada di  dalamnya. Sehingga hal itu akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah  kemudian berupaya senantiasa menjauhkan diri dari meninggalkan kewajiban  atau menerjang larangan-Nya.</li>
<li>Semua orang yang beriman pasti masuk ke dalam surga, meskipun di  antara mereka ada juga yang terlebih dahulu ‘mampir’ ke neraka untuk  dibersihkan dosa-dosanya, <em>semoga Allah menyelamatkan kita dari       siksanya…</em></li>
<li>Keutamaan tauhid yang sangat agung, karena tidak mungkin orang bisa  masuk surga tanpa tauhid di dalam dirinya. Orang yang beriman tidak  dikatakan beriman jika dia tidak mengikhlaskan (memurnikan ibadahnya)  untuk Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Oleh sebab itu Allah  berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni  dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang di bawahnya bagi  siapa saja yang dikehendaki-Nya.”</em> (QS. an-Nisaa’: 48)</li>
<li>Sifat<em> ‘adl (‘udul) </em>para sahabat, artinya mereka adalah  penukil berita dan hadits-hadits yang terpercaya. Oleh sebab itu para  tabi’in tidak meragukan kejujuran mereka dalam meriwayatkan  hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dakwah yang dikumandangkan oleh para sahabat adalah seruan untuk  berpegang teguh dengan Sunnah. Oleh sebab itu mereka adalah orang-orang  yang paling giat menyebarkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu       ‘alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah manusia, bahkan mereka itulah       narasumber  kunci periwayatan      hadits-hadits Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> kepada      generasi-generasi lain sesudah  mereka, <em>semoga Allah membalas jasa-jasa      mereka dengan  sebaik-baik balasan</em>.  Oleh sebab itu barangsiapa yang berupaya  untuk mendiskreditkan para sahabat dan menjatuhkan kehormatan mereka di  mata kaum muslimin -apalagi sampai mengkafirkan mereka- maka pada  hakekatnya dia ingin menghancurkan agama Islam yang mulia ini dengan  cara menolak riwayat-riwayat mereka! <em>Maha      suci Allah dari  perbuatan keji yang mereka lakukan..</em></li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Dimana       mereka senantiasa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an kepada       Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (hadits). Karena  mereka      meyakini bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah manusia yang paling paham tentang al-Qur’an. Dan juga mereka  memahami bahwa apa yang disabdakan oleh Rasul tidak mungkin bertentangan  dengan al-Qur’an. Karena kewajiban Rasul adalah menyampaikan apa yang  diturunkan oleh Allah. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan  Kami telah turunkan kepadamu adz-Dzikra (al-Qur’an) untuk kamu jelaskan  kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan mudah-mudahan  mereka mau memikirkannya.”</em> (QS. An-Nahl: 44). Oleh sebab itu  siapapun juga yang meninggalkan manhaj para sahabat dalam memahami  al-Qur’an dan menerapkannya pasti akan tersesat… Kisah ini sebagai salah  satu buktinya!</li>
<li>Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat akan       berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara Allah <em>‘azza wa       jalla</em> sendiri telah merekomendasikan mereka di hadapan  segenap umat manusia di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya  (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari  kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka  dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti akan  ridha kepada-Nya. Allah telah persiapkan untuk mereka surga-surga yang  mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah  kemenangan yang sangat besar.”</em> (QS.      at-Taubah: 100)</li>
<li>Bantahan bagi Khawarij yang berpemahaman bahwa pelaku dosa besar  kekal di neraka dan tidak mungkin keluar darinya. Dan pembuktian kepada  mereka bahwa kesalahan yang mereka lakukan <strong>bukan terletak pada       dalil</strong> (sumber hukum) yang mereka pakai, akan tetapi <strong>letak  kesalahan      mereka adalah dalam hal <a href="http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html">istidlal</a></strong><a href="http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html"> </a>(cara  penyimpulan hukum) dari dalil      yang ada,  entah itu ayat-ayat       al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Oleh  sebab itu untuk mengikuti kebenaran tidak cukup dengan membawakan dalil  tanpa disertai dengan cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan  betapa banyak orang yang <a href="http://muslim.or.id/manhaj/rajin-pengajian-kok-sesat.html">tersesat </a>melalui pintu ini -istidlal yang salah-, <em>maka ambillah  pelajaran wahai      saudaraku!</em></li>
<li>Sebab utama sekte Khawarij menyimpang dari jalan yang lurus adalah  karena mereka terlalu kagum dengan hasil pikiran mereka dan tidak mau  mengikuti cara pemahaman para sahabat <em>radhiyallahu ta’ala ‘anhum.</em> Mereka ahli membaca al-Qur’an, namun mereka tidak memahaminya  sebagaimana yang dipahami oleh Rasul dan para sahabat. Oleh sebab itulah  mereka itu sesat dan menyesatkan. Bukankah ketika mengkafirkan Ali bin  Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> mereka juga berdalil dengan ayat  al-Qur’an, namun ternyata mereka sendiri      yang tidak paham tentang  tafsirannya?!</li>
<li>Tidak boleh mempertentangkan antara dalil al-Qur’an dengan       dalil Hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sebab keduanya       adalah wahyu yang bersumber dari Allah <em>ta’ala. </em>Adapun  sebuah hadits      yang disandarkan kepada Nabi yang bunyinya, <em>“Apa  saja datang kepada kalian dariku maka bandingkanlah ia dengan apa yang  ada dalam Kitabullah. Apabila ia cocok dengan Kitabullah maka itu  berarti aku benar-benar mengucapkannya. Akan tetapi jika ia bertentangan  dengan Kitabullah maka itu artinya aku tidak mengucapkannya…”</em> maka  ini adalah hadits yang <strong>tidak sahih</strong> yang dibuat-buat  oleh kaum Zindiq dan Khawarij, sebagiamana yang diungkapkan oleh  Abdurrahman bin Mahdi dan dikutip oleh Ibnu Abdil Barr (lihat kutipannya  dalam <em>Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal      Jama’ah</em>,  Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani hal. 126) <em> </em></li>
<li>Meninggalkan bimbingan para ulama Rabbani -dan para sahabat adalah  tokoh terdepan dalam barisan mereka- akan menjerumuskan umat ke dalam  jurang kehancuran. Salah satu penyebab utama terjadinya hal itu -baik di  masa dahulu maupun sekarang- adalah <strong>rasa percaya diri yang       berlebihan dan kekaguman terhadap pendapat pribadi atau kelompoknya</strong> sehingga menganggap diri telah paham perkara agama tanpa terlebih dulu       berkonsultasi kepada para ulama. <em>Maka camkanlah hal ini  baik-baik,      wahai para pemuda!</em> Dan ketika ulama sudah  ditinggalkan, maka yang      diangkat adalah sosok <em>Ruwaibidhah</em> yaitu orang-orang yang bodoh -meskipun dijuluki dengan Kiyai, Ustadz,  atau Cendekiawan- yang nekad berbicara soal urusan orang banyak.. <em>Laa  haula wa laa quwwata illa      billaah</em></li>
<li>Syafa’at Nabi bagi para pelaku dosa besar agar dikeluarkan dari  neraka adalah benar adanya. Hal itu sebagaimana yang dikisahkan oleh  Hammad bin Zaid ketika dia bertanya kepada Amr bin Dinar, <em>“Apakah  kamu pernah mendengar Jabir bin Abdullah -radhiyallahu’anhuma-  menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang  isinya: Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan sekelompok orang dari  neraka dengan sebab syafa’at?”</em>. Maka dia menjawab, <em>“Benar.”</em> (lihat Sahih      Muslim yang dicetak bersama <em>Syarh Muslim</em> [2/322])</li>
<li>Keutamaan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang berpegang teguh       dengan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ada di       antara ulama salaf dahulu yang mengatakan, <em>“Para malaikat  adalah penjaga-penjaga langit, sedangkan ahlul hadits adalah  penjaga-penjaga bumi.” Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dan  meneguhan kita untuk berada di dalam rombongan mereka, Allahul musta’an… </em></li>
</ol>
<p>sumber : muslim.or.id</p>
<ol><em></em></ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=64&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/04/15/tuduhlah-akal-kalian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://snhuk.co.uk/shop/images/Akal-2-1-bronze.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tundukanlah akal kalian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasihat Imam Hasan al-Bashri rahimahullaah</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/03/08/nasihat-imam-hasan-al-bashri-rahimahullaah/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/03/08/nasihat-imam-hasan-al-bashri-rahimahullaah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 03:13:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaahi rahmaanir rahiim Berikut adalah nasihat yang disampaikan oleh Hasan Al Bashri rahimahullaah -dalam Mawa&#8217;izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: &#8220;Wahai anak Adam, (masa) siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah terhadapnya. Karena sungguh, jika engkau berbuat baik kepadanya, niscaya dia akan pergi dengan memujimu. Dan apabila engkau berbuat buruk terhadapnya maka dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=56&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bismillaahi rahmaanir rahiim</em></p>
<p><img class="alignright" title="waktu... siang" src="http://www.clock-desktop.com/screens/sky_watch/heaven-watch.jpg" alt="" width="267" height="238" />Berikut adalah nasihat yang disampaikan oleh Hasan Al Bashri <em>rahimahullaah</em> -dalam <strong>Mawa&#8217;izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri</strong></p>
<p><strong>Al-Hasan Al-Bashri</strong> <em>rahimahullah</em> berkata:<br />
&#8220;Wahai anak Adam, (masa) siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah  terhadapnya. Karena sungguh, jika engkau berbuat baik kepadanya, niscaya  dia akan pergi dengan memujimu. Dan apabila engkau berbuat buruk  terhadapnya maka dia akan pergi dengan mencercamu, begitu pula dengan  malammu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wahai anak Adam, injaklah bumi ini dengan kakimu. Sungguh, sekecil  apapun dia, pasti bakal menguburmu. Sesungguhnya engkau itu senantiasa  sedang mengurangi usiamu, semenjak engkau dilahirkan dari perut ibumu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wahai anak Adam, engkau dapati pagimu berada di antara dua waktu, yang  keduanya tak mungkin meninggalkanmu, yakni bahayanya malam dan bahayanya  siang. Sampai engkau mendatangi negeri akhirat, yang bisa jadi engkau  datang ke al-jannah (surga) dan bisa jadi engkau ke an-nar (neraka).  Maka siapakah yang lebih besar bahayanya daripada dirimu sendiri?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wahai anak Adam, engkau hanyalah (laksana) hari-hari yang setiap kali  berlalu satu hari maka hilanglah pula sebagian dari dirimu.&#8221; [1]</p>
<p><strong>Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri</strong> berkata:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya,  (karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri karena Allah   semata.&#8221;</p>
<p>&#8220;Adalah hisab (perhitungan amal) di Yaumul Qiyamah nanti akan terasa  lebih ringan bagi suatu kaum yang (terbiasa) mengintrospeksi diri mereka  selama masih di dunia, dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara  yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai  sesuatu yang tidak diperhitungkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya seorang mukmin (apabila) dikejutkan oleh sesuatu yang  dikaguminya maka dia pun berbisik: &#8216;Demi Allah, sungguh aku benar-benar  sangat menginginkanmu, dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan.  Akan tetapi demi Allah, tiada (alasan syar&#8217;i) yang dapat menyampaikanku  kepadamu, maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya. Ada yang menghalangi  antara aku denganmu&#8217;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan (jika) tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang melampaui batas,  segera dia kembalikan pada dirinya sendiri sembari berucap: &#8216;Apa yang  aku maukan dengan ini semua, ada apa denganku dan dengan ini? Demi  Allah, tidak ada udzur (alasan) bagiku untuk melakukannya, dan demi  Allah aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya Allah&#8217;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya seorang mukmin adalah suatu kaum yang berpegang erat  kepada Al Qur`an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Al  Qur`an serta berpaling dari (hal-hal) yang dapat membinasakan diri  mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu)  berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman  dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa  dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki  penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan  perkara yang paling diutamakan.&#8221; [2]</p>
<p>[1] Mawa&#8217;izh lil Imam Hasan al Bashri h.35</p>
<p>[2] ibid h.39</p>
<p>sumber : asysyariah.com</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=56&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/03/08/nasihat-imam-hasan-al-bashri-rahimahullaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.clock-desktop.com/screens/sky_watch/heaven-watch.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">waktu... siang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubah (Ibroh Kisah Pembunuh 100 Jiwa)</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/01/25/kisah-taubah-ibroh-kisah-pembunuh-100-jiwa/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/01/25/kisah-taubah-ibroh-kisah-pembunuh-100-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 14:02:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah taubah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفسا ، فسأل عن أعلم أهل الأرض ، فدُلَّ على راهب ، فأتاه فقال : إنه قتل تسعة وتسعين نفسا ، فهل له من توبة ، فقال : لا ، [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=37&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفسا ، فسأل عن أعلم أهل الأرض ، فدُلَّ على راهب ، فأتاه فقال : إنه قتل تسعة وتسعين نفسا ، فهل له من توبة ، فقال : لا ، فقتله فكمل به مائة ، ثم سأل عن أعلم أهل الأرض ، فدُلَّ على رجل عالم ، فقال : إنه قتل مائة نفس ، فهل له من توبة، فقال : نعم ، ومن يحول بينه وبين التوبة ، انطلق إلى أرض كذا وكذا ، فإن بها أناسا يعبدون الله ، فاعبد الله معهم ، ولا ترجع إلى أرضك ، فإنها أرض سوء ، فانطلق حتى إذا نصَفَ الطريق أتاه الموت ، فاختصمت فيه ملائكة الرحمة وملائكة العذاب ، فقالت ملائكة الرحمة : جاء تائبا مقبلا بقلبه إلى الله ، وقالت ملائكة العذاب : إنه لم يعمل خيرا قط ، فأتاهم ملَكٌ في صورة آدمي ، فجعلوه بينهم ، فقال : قيسوا ما بين الأرضين ، فإلى أيتهما كان أدنى فهو له ، فقاسوه فوجدوه أدنى إلى الأرض التي أراد ، فقبضته ملائكة الرحمة . قال قتادة : فقال الحسن : ذُكِرَ لنا أنه لما أتاه الموت نأى بصدره</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebelum kalian (dari kalangan bani Israil ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 jiwa, kemudian dia bertanya tentang orang yang paling pandai di muka bumi. Dia diberitahu adanya seorang ahli ibadah, dia pun mendatanginya, dia berkata, bahwa dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada kesempatan untuk bertaubat?. Ahli ibadah itu menjawab, ‘Tidak’. Kemudian lelaki tadi membunuhnya, sehingga dia menyempurnakan jiwa yang telah dia bunuh menjadi 100. Dia bertanya lagi tentang orang yang paling alim di muka bumi ini. Dia diberitahu adanya seorang alim. Dia bertanya kepadanya, bahwa dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada kesempatan untuk bertaubat ? Orang alim itu berkata, ‘Ya’. Apa yang menjadi penghalang untuk bertaubat. Pergilah ke daerah itu, di dalamnya ada banyak orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka beribadahlah kepada Allah Ta’ala dengan mereka. Dan jangan kembali ke daerahmu, karena ia temapat yang dipenuhi dengan keburukan. Lelaki itu kemudian meninggalkannya dan menuju ke daerah yang disarankan . Ketika di pertengahan jalan Malaikat Maut mengambil ruhnya ( Ia meninggal dunia). Malaikat pembawa rahmah dan malaikat pembawa adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, ‘Dia telah datang dengan bertaubat kepada Allah Ta’ala.’ Malaikat adzab barkata, ‘Dia tidak pernah melakukan kebaikan sedikit pun’. Datanglah seorang malaikat dalam bentuk manusia sebagai penengah di antara keduanya. Dia berkata, ‘Ukurlah antara kedua daerah tersebut, mana yang lebih dekat, maka itu adalah bagiannya’. Keduanyapun melakukan itu, dan mendapatinya lebih dekat kepada daerah yang dituju. Kemudian Malaikat Rahmat membawanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Kisah dalam hadits ini shahih yang disebutkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Di dalam kisah ini terdapat banyak pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua.</p>
<p>Pada kegiatan Kismis Ramadhan 1430 H ini merupakan pertemuan pertama yang disampaikan oleh ust. Ali Basuki, Lc &#8211; hafidzahullaah -.</p>
<p>Silahkan di download</p>
<p>1. File mp3 <a href="http://www.salafishare.com/id/32F92XQ8S4VY/Ibroh Kisah Pembunuh 100 Jiwa.mp3">Ibroh Kisah Pembunuh 100 Jiwa</a></p>
<p>2. <a href="http://www.salafishare.com/id/32NG009T1KJS/Soal Jawab Ibroh Kisah Pembunuh 100 Jiwa.mp3">Tanya jawab</a></p>
<p>sumber : blog <a href="http://ambons2.co.cc/?p=248">ardiyan</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=37&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/01/25/kisah-taubah-ibroh-kisah-pembunuh-100-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid &amp; Keutamaannya</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/01/04/tauhid-keutamaannya/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/01/04/tauhid-keutamaannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 04:32:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- berkata, “Yakni agar mereka bertauhid kepada-Ku.” Allah Ta’ala berfirman: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=34&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَمَا خَلَقْتُ</strong><strong> </strong><strong>الْجِنَّ</strong><strong> </strong><strong>وَالإِنسَ</strong><strong> </strong><strong>إِلاَّ</strong><strong> </strong><strong>لِيَعْبُدُونِ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.”</em> (QS. Adz-Dzariyat: 56)</p>
<p><img class="alignleft" title="tauhid awalan" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs162.snc3/18956_262449410925_138136860925_4872435_4266093_n.jpg" alt="" width="155" height="215" /></p>
<p>Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- berkata, “Yakni agar mereka bertauhid kepada-Ku.”</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَلَقَدْ</strong><strong> </strong><strong>بَعَثْنَا</strong><strong> </strong><strong>فِي</strong><strong> </strong><strong>كُلِّ</strong><strong> </strong><strong>أُمَّةٍ</strong><strong> </strong><strong>رَّسُولاً</strong><strong> </strong><strong>أَنِ</strong><strong> </strong><strong>اعْبُدُواْ</strong><strong> </strong><strong>اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ</strong><strong> </strong><strong>الطَّاغُوتَ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut.”</em> (QS. An-Nahl: 36)</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah -radhiallahu anhu- dia berkata:</p>
<p><strong>مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang menemui Allah (meninggal) dalam keadaan tidak berbuat kesyirikan kepada Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti akan masuk surga, dan barangsiapa yang menemui Allah dalam keadaan berbuat kesyirikan kepada-Nya dengan sesuatu apapun maka dia pasti akan masuk neraka.” </em>(HR. Muslim no. 93)</p>
<p>Dari Muadz bin Jabal -radhiallahu anhu- dia berkata:</p>
<p><strong>كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ إِلَّا مُؤْخِرَةُ الرَّحْلِ. فَقَالَ: يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ! قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ. ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ: يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ! قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ. ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ: يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ! قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ: هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ, قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا. ثُمَّ سَارَ سَاعَةً قَالَ: يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ! قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ: هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ, قَالَ: أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu perjalanan, tidak ada pemisah antara aku dan beliau kecuali pelana hewan kendaraan. Beliau memanggil, “Wahai Muadz bin Jabal!” Aku menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Kami meneruskan lagi perjalanan. Kemudian beliau memanggil lagi, “Wahai Muadz bin Jabal!” Aku menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Kami meneruskan lagi perjalanan kemudian beliau memanggil lagi: “Wahai Muadz bin Jabal!” Aku menyahut lagi, ” Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Tahukah kamu apa Kewajiban manusia terhadap Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.” Kami meneruskan lagi perjalanan beberapa waktu ketika kemudian beliau memanggil lagi, “Wahai Muadz bin Jabal!” Aku menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu apakah kewajiban Allah terhadap manusia apabila mereka melakukan perkara-perkara yang aku nyatakan tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Akhirnya beliau bersabda, “Allah tidak akan menyiksa mereka.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 2644, 5796, 6825 dan Muslim no. 30)</p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p>Dalam riwayat lain:</p>
<p><strong>قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ: لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Saya lalu berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku menceritakannya kepada orang-orang?” Beliau menjawab, “Jangan kamu memberitahukannya kepada mereka sehingga mereka akan bersandar kepadanya.”</em></p>
<p>Yakni: Mereka akan malas dan tidak berlomba-lomba beramal saleh karena mereka hanya bersabdar pada keutamaan tauhid yang mereka sudah miliki.</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong></p>
<p>Tauhid adalah ketaatan yang terbesar, bahkan dia merupakan landasan baiknya semua ketaatan. Karena ketaatan yang dikerjakan tanpa landasan tauhid adalah ketaatan yang semu dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Tauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam rububiah-Nya, uluhiah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifatNya. Hanya saja sebagian ulama ada yang menafsirkan tauhid itu adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah (tauhid uluhiah), karena di antara tiga jenis tauhid di atas, yang terpenting adalah tauhid uluhiah mengingat seseorang masuk Islam hanya dengan mewujudkan tauhid uluhiah. Dan secara umum, cara mewujudkan tauhid uluhiah adalah menyembah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan meninggalkan serta mengingkari semua entuk taghut, yaitu semua yang disembah selain Allah dalam keadaan dia ridha disembah. Lihat pembahasan lengkapnya di: http://al-atsariyyah.com/?p=683</p>
<p><strong>Tauhid mempunyai banyak keutamaan di antaranya:</strong></p>
<ol>
<li>Jin dan manusia diciptakan untuk mentahqiq (mewujudkannya), serta semua langit dan bumi serta isinya diciptakan sebagai pendukung bagi jin dan manusia untuk mengemban kewajiban mereka.</li>
<li>Dia merupakan tugas semua rasul dari Nuh -alaihishshalatu wassalam- sampai Muhammad -alaihishshalatu wassalam-. Sehingga dia merupakan kewajiban yang diturunkan kepada setiap ummat dan merupakan salah satu ajaran yang disepakati oleh semua agama samawiah.</li>
<li>Dia merupakan syarat mutlak dan syarat paling minimal untuk masuk ke dalam surga dan selamat dari kekelan api neraka. Artinya orang yang bertauhid pasti akan masuk surga walaupun mungkin dia masuk meraka terlebih dahulu karena dosa-dosanya, tapi yang jelas dia tidak akan kekal di dalamnya dan akan keluar pada akhirnya karena tauhid yang dia miliki.</li>
<li>Dia merupakan kewajiban yang paling wajib, jauh melebihi wajibnya shalat, puasa, zakat, dan haji. Karena betapa meruginya orang-orang yang shalat atau puasa atau zakat atau haji akan tetapi tauhidnya belum benar.</li>
<li>Tauhid yang sempurna bisa menghapuskan semua kesalahan, sebagaimana yang masyhur dalam hadits <em>al-bithaqah</em>. Dimana ada seseorang yang punya 99 lembaran dosa dan mempunyai satu <em>bithaqah</em> (kartu kecil) yang bertuliskan: لا إله إلا الله, maka tatkala ditimbang pada hari kiamat ternyata kartu kecil ini lebih berat sehingga semua dosanya diampuni dan dia masuk surga.</li>
<li>Dengan menyempurnakan tauhid -bukan sekedar bertauhid- maka dia akan selamat dari semua siksaan Allah Ta’ala berdasarkan hadits Muadz di atas.</li>
</ol>
<p>Dan tauhid yang sempurna adalah tauhid yang disertai dengan amalan-amalan saleh baik yang wajib maupun yang sunnah. Karenanya jangan sampai ada yang mengira bahwa sekedar tidak berbuat syirik itu sudah cukup untuk memasukkan dia ke dalam surga, walaupun dia tidak mengerjakan kewajiban yang Allah bebankan, sungguh ini adalah pemahaman yang keliru.</p>
<p><strong>Beberapa pelajaran dari hadits Jabir dan Muadz di atas:</strong></p>
<ol>
<li>Taubat masih terbuka bagi pelaku dosa selama dia belum berjumpa dengan Allah (meninggal). Walaupun dosa yang dia amalkan adalah kesyirikan maka Allah tetap akan mengampuninya selama dia bertaubat sebelum meninggal.</li>
<li>Didatangkannya kata kerja ‘masuk’ surga dan neraka dalam bentuk <em>fi’il madhi</em> (kata kerja lampau): <strong>دخل </strong>padahal ini belum terjadi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa orang mati dalam keadaan bertauhid pasti akan masuk surga dan yang mati di atas kesyirikan maka pasti akan masuk surga.</li>
<li>Bolehnya menggunakan tunggangan atau kendaraan untuk berboncengan selama tidak memberatkan tunggangannya.</li>
<li>Tawadhu` Nabi -alaihishshalatu wassalam- tatkala beliau sebagai nabi dan pemimpin mau berboncengan dengan rakyat beliau.</li>
<li>Menjawab dengan: <strong>لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ</strong><strong> </strong>ketika dipanggil.</li>
<li>Hikmah Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengulangi panggilan kepada Muadz sebanyak tiga kali agar ilmu yang akan beliau sampaikan cepat dihafal dan dipahami oleh Muadz dan agar dia selalu menghafalnya. Tatkala Nabi mengulangi panggilan maka tentunya hati Muadz sudah bertanya-tanya dan sudah siap mendengarkan dengan baik, mengingat tidak biasanya Nabi -alaihishshalatu wassalam- seperti itu, maka tentunya apa yang akan beliau sampaikan adalah perkara yang sangat penting.</li>
<li>Bolehnya seorang alim bertanya atau mengadakan ikhtibar (ujian) kepada muridnya guna mengetahui sampai dimana kadar keilmuan mereka.</li>
<li>Bolehnya seorang alim menguji keilmuan muridnya dengan melontarkan sebuah syubhat agar muridnya menjawabnya, tapi dengan syarat jika muridnya tidak bisa menjawab dengan benar maka dia harus memberikan jawaban dari syubhat tersebut sebelum majelisnya berakhir.</li>
<li>Adab dalam menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya, yaitu mengatakan: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Hanya saja ini sebelum Nabi wafat, adapun setelah beliau wafat maka cukup dikatakan: Allah yang lebih mengetahui. Hal itu karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak mengetahui perkara dunia setelah beliau wafat.</li>
<li>Bolehnya seorang guru mengkhususkan ilmu tertentu yang pada sebagian muridnya dan tidak kepada yang lainnya. Dengan pertimbangan bahwa ilmu tersebut hanya bisa dipahami oleh murid tertentu dan tidak bisa dipahami oleh seluruhnya. Ini berbeda jauh dengan pengkhususan sebagian orang dalam menerima taklim tertentu yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terfitnah dengan hizbiah. Dimana yang menjadi tolak ukur dan pertimbangan mereka adalah siapa yang paling setia dan loyal kepada jamaah/yayasan, yakni yang boleh mengikuti taklim tertentu tersebut hanyalah semua orang yang sudah terbukti kesetiaannya kepada yayasan, sementara yang belum terbukti kesetiaannya tidak boleh mengikutinya walaupun dia lebih alim daripada para petinggi yayasan tersebut. Inilah di antara bentuk <em>sirriyah tanzhim</em> (pengaturan terselubung)</li>
<li>Bolehnya mengundurkan penyampaian ilmu yang bermanfaat atau menyembunyikannya <strong>sementara waktu</strong>, jika ada maslahat dalam mengundurkannya atau akan timbul mudharat jika ilmu itu disampaikan saat itu. Intinya tidak semua kebenaran harus disampaikan secepatnya akan tetapi <em>likulli maqamin maqal</em> (ucapan yang diucapkan harus sesuai dengan situasi saat itu), dan ini termasuk hikmah dalam berdakwah. Betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh seorang dai hanya karena tidak mempunyai hikmah dalam berdakwah, khususnya ketika dia ingin menyampaikan suatu kebenaran kepada masyarakat yang sudah turun-temurun meninggalkan kebenaran tersebut.</li>
</ol>
<p>Hanya ini yang bisa kami dapatkan, bagi yang mendapatkan faidah lain dari kedua hadits di atas silakan menambahkan di kolom komentar. Jazakumullahu khairan.</p>
<p>sumber : <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1611">http://al-atsariyyah.com/?p=1611</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=34&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2010/01/04/tauhid-keutamaannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs162.snc3/18956_262449410925_138136860925_4872435_4266093_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tauhid awalan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taubat &amp; Keutamaannya</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/31/taubat-keutamaannya/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/31/taubat-keutamaannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 03:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaannya]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[By ustadz Abu Muawiah Allah Ta’ala berfirman: { وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّها الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} “Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31) Allah Ta’ala berfirman: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا} “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=32&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By ustadz Abu Muawiah</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>{ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّها الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}</p>
<p>“Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا}</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)</p>
<p>Dari Al-Aghar bin Yasar Al Muzanni -salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ</p>
<p>“Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah, susungguhnya aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim no. 2702)<br />
Dari Anas radliallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلَاةٍ</p>
<p>“Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian yang mendapatkan hewan tunggangannya yang telah hilang di padang yang luas.” (HR. Al-Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747)</p>
<p>dari Abu Sa’id Al Khudri bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:</p>
<p>قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ</p>
<p>“Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Kemudian orang tersebut mencari penduduk bumi yang paling alim (yang banyak ilmunya). Lalu dia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah Bani Israil) dan dia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut dia berterus terang bahwasanya dia telah membunuh 99 orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu menjawab,;”’Tidak.” Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini 100 orang yang telah dibunuhnya. Kemudian orang tersebut mencari penduduk bumi yang paling alim, lalu dia ditunjukkan kepada seorang alim (ulama). Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata bahwa dia telah membunuh 100 orang dan apakah dia masih bisa bertaubat?” Orang alim itu menjawab, “Ya, apa yang menghalangi antara dia dan taubat?! Pergilah ke daerah ini karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu adalah lingkungan yang buruk.”<br />
<span id="more-32"></span><br />
Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat rahmat dan azab berselisih mengenai siapa yang akan membawa rohnya. Malaikat rahmat berkata, “Orang datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah Ta’ala.” Malaikat azab membantah, “Tetapi, dia belum berbuat kebaikan sama sekali.” Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Lalu keduanya menjadikan malaikat yang berwujud manusia sebagai hakim di antara mereka. Malaikat yang berwujud manusia tersebut berkata, “Ukurlah jarak antara kedua daerah ini, negeri mana yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini maka orang itu diikutkan sebagai penduduknya. Maka merekapun mengukurnya dan ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang tersebut lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut dibawa oleh malaikat rahmat.”<br />
(HR. Al-Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2766)</p>
<p>Dalam riwayat Al-Bukhari:</p>
<p>فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَقَرَّبِي وَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَبَاعَدِي</p>
<p>“Lalu Allah Ta’ala mewahyukan kepada bumi yang dituju (desa untuk mencari taubat) agar mendekat dan mewahyukan kepada bumi yang ditinggalkan (tempat dia melakukan kejahatan) agar menjauh.”</p>
<p>Penjelasan ringkas:</p>
<p>Sesungguhnya setiap manusia pasti akan terjatuh ke dalam kesalahan dan dosa, karenanya sebagai rahmat Allah Dia memerintahkan kepada segenap hambanya untuk bertaubat dan meminta ampun kepada-Nya dengan taubat yang jujur, dan Dia mengabarkan kegembiraan-Nya yang besar atas taubat hamba-Nya dan bahwa dengan taubat itulah mereka akan mendapatkan keberuntungan di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Tidak terkecuali Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, beliau juga mendapatkan perintah itu dan beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam menjalankan perintah ini, sampai-sampai beliau meminta ampun kepada Allah 100 kali dalam sehari padahal semua dosa beliau -yang telah lalu dan yang akan datang- telah diampuni oleh Allah. Maka bagaimana dengan kita?!</p>
<p>Dan satu hal yang wajib diyakini oleh para hamba bahwa Allah Ta’ala Maha luas rahmat dan ampunannya, sehingga tidak ada satu dosapun yang dianggap besar oleh Allah untuk Dia ampuni, jika orangnya bertaubat. Karenanya termasuk dosa besar tatkala seseorang berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala.</p>
<p>Ambillah pelajaran dari kisah pembunuh 100 nyawa di atas, bahwa barangsiapa yang sudah mempunyai tekad dan ikhlas untuk bertaubat maka Allah akan memberikan taufik dan membantunya untuk bertaubat serta akan mengampuni dirinya, walaupun dia belum sempat menyempurnakan taubatnya.</p>
<p><a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1555">http://al-atsariyyah.com/?p=1555</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=32&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/31/taubat-keutamaannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taubat, Syarat &amp; Adabnya</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/30/taubat-syarat-adabnya/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/30/taubat-syarat-adabnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 03:10:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaahir rahmaanir rahiim Allah Ta’ala berfirman: { يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا} “Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. Al-An’am: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=25&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillaahir rahmaanir rahiim</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>{ يَوْمَ</strong><strong> </strong><strong>يَأْتِي</strong><strong> </strong><strong>بَعْضُ</strong><strong> </strong><strong>آيَاتِ</strong><strong> </strong><strong>رَبِّكَ</strong><strong> </strong><strong>لاَ</strong><strong> </strong><strong>يَنفَعُ</strong><strong> </strong><strong>نَفْسًا</strong><strong> </strong><strong>إِيمَانُهَا لَمْ</strong><strong> </strong><strong>تَكُنْ</strong><strong> </strong><strong>آمَنَتْ</strong><strong> </strong><strong>مِن</strong><strong> </strong><strong>قَبْلُ</strong><strong> </strong><strong>أَوْ</strong><strong> </strong><strong>كَسَبَتْ</strong><strong> </strong><strong>فِي</strong><strong> </strong><strong>إِيمَانِهَا</strong><strong> </strong><strong>خَيْرًا}</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”</em> (QS. Al-An’am: 158)</p>
<p>Dan Allah juga berfirman:</p>
<p><strong>{ إِنَّمَا</strong><strong> </strong><strong>التَّوْبَةُ</strong><strong> </strong><strong>عَلَى</strong><strong> </strong><strong>اللّهِ</strong><strong> </strong><strong>لِلَّذِينَ</strong><strong> </strong><strong>يَعْمَلُونَ</strong><strong> </strong><strong>السُّوَءَ</strong><strong> </strong><strong>بِجَهَالَةٍ</strong><strong> </strong><strong>ثُمَّ</strong><strong> </strong><strong>يَتُوبُونَ</strong><strong> </strong><strong>مِن</strong><strong> </strong><strong>قَرِيبٍ</strong><strong> </strong><strong>فَأُوْلَـئِكَ</strong><strong> </strong><strong>يَتُوبُ</strong><strong> </strong><strong>اللّهُ</strong><strong> </strong><strong>عَلَيْهِمْ</strong><strong> </strong><strong>وَكَانَ اللّهُ</strong><strong> </strong><strong>عَلِيماً</strong><strong> </strong><strong>حَكِيماً. وَلَيْسَتِ</strong><strong> </strong><strong>التَّوْبَةُ</strong><strong> </strong><strong>لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ</strong><strong> </strong><strong>السَّيِّئَاتِ</strong><strong> </strong><strong>حَتَّى</strong><strong> </strong><strong>إِذَا</strong><strong> </strong><strong>حَضَرَ</strong><strong> </strong><strong>أَحَدَهُمُ</strong><strong> </strong><strong>الْمَوْتُ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>إِنِّي</strong><strong> </strong><strong>تُبْتُ</strong><strong> </strong><strong>الآنَ</strong><strong> </strong><strong>وَلاَ</strong><strong></strong><strong>الَّذِينَ</strong><strong> </strong><strong>يَمُوتُونَ</strong><strong> </strong><strong>وَهُمْ</strong><strong> </strong><strong>كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ</strong><strong> </strong><strong>أَعْتَدْنَا</strong><strong> </strong><strong>لَهُمْ</strong><strong> </strong><strong>عَذَابًا</strong><strong> </strong><strong>أَلِيمًا}</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”</em> (QS. An-Nisa`: 17-18)</p>
<p>Dari Abu Musa Al-Asy’ari -radhiallahu anhu- dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Allah -Azza wa Jalla- akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat.” </em>(HR. Muslim no. 2760)</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma- dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan.”</em> (HR. At-Tirmizi no. 1531, Ibnu Majah no. 3407, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1309)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong></p>
<p>Dalil-dalil di atas menunjukkan luasnya rahmat Allah tatkala Dia menerima taubat dari semua hamba-Nya kapan dan dimanapun, sepanjang malam dan siang sebelum terbitnya matahari dari sebelah barat.</p>
<p>Juga menunjukkan bahwa di antara sebab terbesar diterimanya taubat adalah tatkala taubat itu dikerjakan segera setelah melakukan dosa dan kesalahan.</p>
<p>Juga menunjukkan bahwa ketika seseorang sudah bertaubat dari suatu dosa lalu dia mengulangi lagi dosa tersebut atau melakukan dosa yang lain setelahnya, maka taubatnya yang pertama tetap diterima (selama syarat-syaratnya terpenuhi), sementara dosa yang kedua atau dosa yang dia ulangi itu wajib atasnya untuk bertaubat kembali. Jadi, bukan syarat diterimanya taubat dia tidak boleh mengulangi dosa yang sama.</p>
<p>Adapun syarat diterimanya taubat, maka dalil-dalil di atas menunjukkan taubat masih diterima selama matahari belum terbit dari sebelah barat dan sebelum nyawa sampai ke tenggorokan. Lihat syarat-syarat serta keterangan lainnya di: <strong><a href="http://al-atsariyyah.com/?p=635">http://al-atsariyyah.com/?p=635</a></strong></p>
<p><strong>sumber : </strong><a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1578">al-atsariyyah.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=25&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/30/taubat-syarat-adabnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Renungan</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/30/sebuah-renungan/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/30/sebuah-renungan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 03:09:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[oleh : al Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullaahu Ta&#8217;ala- Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tiada terasa begitu banyak hal-hal yang telah kita perbuat, sedangkan usia semakin menggiring kepada kematian, tapi tidak seorang pun dari kita yang mengetahui apakah amalannya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala atau justru ia tertolak sehingga menjadi orang yang merugi. Pergantian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=27&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter" src="http://www.ahlussunnah-jakarta.com/images/bismillaah.gif" alt="" width="135" height="45" /></p>
<p style="text-align:left;">oleh : al Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullaahu Ta&#8217;ala-</p>
<p style="text-align:left;">Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tiada terasa begitu banyak hal-hal yang telah kita perbuat, sedangkan usia semakin menggiring kepada kematian, tapi tidak seorang pun dari kita yang mengetahui apakah amalannya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala atau justru ia tertolak sehingga menjadi orang yang merugi.<br />
Pergantian tahun merupakan momen penting bagi kita untuk introspeksi (muhasabah), melihat kembali apa yang telah kita kerjakan pada masa yang lalu untuk berbuat lebih baik di sisa waktu. Semoga tulisan kali ini dapat memberi sedikit pencerahan kepada kita dalam meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, amiin.</p>
<p>Muhasabah (menghisab) diri ada dua macam: menghisab sebelum berbuat dan menghisab sesudahnya.<br />
Adapun yang pertama (menghisab sebelum berbuat) adalah berfikir pada awal perencanaan dan kehendaknya dan tidak langsung berbuat sampai jelas baginya mana yang baik, melakukan rencananya atau meninggalkannya.<br />
Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata, “Allah merahmati seseorang yang berfikir pada awal perencanaannya, apabila (rencananya itu) karena Allah ia lanjutkan, dan apabila karena selainnya ia tinggalkan.”<br />
Sebagian ulama menjabarkan hal ini: apabila jiwa seseorang tergerak mengerjakan sesuatu, hendaknya ia merenung dan mengamati apakah rencananya itu dalam batas kesanggupannya atau tidak? Apabila ia di luar batas kesanggupannya, hendaknya ia berhenti. Sedangkan apabila masih dalam batas kesanggupannya, hendaknya ia merenung dan mengamati kembali, apakah menjalaninya yang lebih baik ataukah meninggalkannya. Apabila jawabannya yang kedua, hendaknya ia meninggalkannya dan tidak menjalaninya. Sedangkan apabila jawabannya yang pertama, ia merenung dan mengamati sekali lagi, apakah motivasinya mengharapkan wajah Allah Azza Wa Jalla dan pahala-Nya atau mengharapkan kedudukan, pujian dan harta dari makhluk? Apabila jawabannya yang kedua, hendaknya ia tidak menjalaninya meskipun rencananya membantunya meraih harapan-harapannya, agar jiwanya tidak terbiasa dengan kesyirikan sehingga menjadi ringan baginya berbuat bukan karena Allah, karena semakin ringan bagi seseorang berbuat demikian semakin berat pula baginya berbuat karena Allah Ta’ala, hingga ikhlas menjadi perkara yang terberat bagi dia.</p>
<p><span id="more-27"></span><br />
Sedangkan apabila jawabannya adalah yang pertama, ia merenung dan mengamati lagi apakah faktor-faktor yang memudahkan terpenuhi, ia memiliki rekan-rekan yang siap membantu atau membelanya, apabila rencananya tersebut membutuhkan orang-orang yang membantunya? Apabila ia tidak memiliki rekan-rekan yang membantunya, hendaknya ia menahan dirinya sebagaimana Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabar dari berjihad di Makkah sampai ia memiliki kekuatan dan shahabat-shahabat yang membelanya. Dan apabila ia memiliki rekan-rekan yang menolongnya, silahkan ia lanjutkan karena sesungguhnya ia akan menang.<br />
Keberhasilan tidak akan pergi kecuali dari orang yang menelantarkan salah satu dari perkara-perkara ini, karena kapan perkara-perkara di atas terpenuhi pada seseorang keberhasilan pasti menyertainya.<br />
Ini adalah empat tingkatan, seseorang perlu menghisab dirinya pada tingkatan-tingkatan tersebut sebelum berbuat. Karena tidak semua yang ingin dilakukan seseorang, di dalam batas kesanggupannya. Dan tidak semua yang ia sanggupi, mengerjakannya lebih baik dari meninggalkannya. Dan tidak semua yang mengerjakannya lebih baik dari meninggalkannya, seseorang mengerjakannya karena Allah. Dan tidak semua yang niatnya karena Allah faktor-faktor pendukungnya terpenuhi. Apabila seseorang menghisab dirinya di atas empat tingkatan ini jelaslah baginya mana yang harus ia kerjakan dan mana yang harus ia tinggalkan.<br />
Yang kedua: Menghisab diri sesudah berbuat. Dan hal ini ada tiga macam. Yang pertama, menghisab diri atas suatu ketaatan yang usai ia kerjakan namun ia kurang memenuhi hak Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala padanya, sehingga ia belum menunaikannya dalam bentuk yang seharusnya.<br />
Dan hak Allah di dalam suatu amalan ketaatan ada enam macam: ikhlas dalam berbuat, totalitas dalam beribadah kepada-Nya, mencontoh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam dalam pelaksanaannya, mengakui segala karunia dan anugrah-Nya dan setelah itu mengakui kurangnya dia dalam memenuhi semua itu.<br />
Maka ia menghisab dirinya apakah ia telah memenuhi hak tingkatan-tingkatan ini? Apakah ia sudah mendatangkan itu semua dalam ketaatan yang telah ia kerjakan ini?<br />
Kedua, menghisab diri atas setiap perbuatan yang telah ia kerjakan, namun meninggalkannya lebih baik dari melakukannya.<br />
Ketiga, menghisab dirinya atas perkara mubah atau kebiasaan yang telah ia kerjakan, kenapa ia kerjakan? Apakah ia mengerjakannya karena mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat? Sehingga ia menjadi orang yang beruntung, atau mengharapkan dunia dan kesenangannya yang sesaat, sehingga ia merugi tidak beruntung!</p>
<p>sumber : <a href="http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=423">ahlussunnah-jakarta.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=27&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/30/sebuah-renungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.ahlussunnah-jakarta.com/images/bismillaah.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Shalat Taubat dan Syaratnya</title>
		<link>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/14/shalat-taubat-dan-syaratnya/</link>
		<comments>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/14/shalat-taubat-dan-syaratnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 07:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>attawwabuun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelakukesalahan.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Apakah ada shalat taubat? Tolong sebutkan syarat-syarat orang yang bertaubat? 085215547xxx Jawab: Dari Ali -radhiallahu anhu- dari Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan perbuatan dosa lalu di bangun dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat, dan setelah itu memohon ampunan kepada Allah melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya.” (HR. At-Tirmizi, Abu Dawud dan Ibnu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=21&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Tanya:<br />
Apakah ada shalat taubat? Tolong sebutkan syarat-syarat orang yang  bertaubat?</p>
<p>085215547xxx</p>
<p>Jawab:<br />
Dari Ali -radhiallahu anhu- dari Rasulullah -shallallahu alaihi  wasallam- bersabda, <em>“Tidaklah seseorang melakukan perbuatan dosa  lalu di bangun dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat, dan setelah itu  memohon ampunan kepada Allah melainkan Allah akan memberikan ampunan  kepadanya.”</em> (HR. At-Tirmizi, Abu Dawud dan Ibnu Majah, serta  dishahihkan oleh Asy-Syaikh Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmizi I/128)<br />
Hadits di atas dijadikan dalil oleh para ulama akan adanya shalat sunnah  taubat, sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Umar  Bazmul dalam kitabnya <em>Bughyatul Muthathawwi’ fii Shalat at-Tatawwu’.</em><br />
Dan hadits ini juga didukung oleh keumuman firman Allah Ta’ala, <em>“Dan  (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau  menganiaya diri mereka sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon  ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni  dosa selain dari pada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan  kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” </em>(QS. Ali Imran : 135)</p>
<p>Adapun syarat diterimanya taubat, maka Asy-Syaikh Abdul Aziz  Ar-Rajihi -hafizhahullah- menyebutkan ada delapan, yaitu:<br />
1. Taubatnya harus ikhlas, hanya mengharapkan dengannya wajah Allah.  Taubatnya bukan karena riya, bukan pula karena sum’ah (keinginan untuk  didengar) dan bukan pula karena dunia.<br />
2. Berlepas diri dari maksiat tersebut.<br />
3. Menyesali dosa yang telah dia kerjakan tersebut.<br />
4. Bertekad untuk tidak mengulangi maksiat tersebut.<br />
5. mengembalikan apa yang kita zhalimi kepada pemiliknya, kalau  kezhalimannya berupa darah atau harta atau kehormatan.<br />
Kami katakan: Maksudnya kalau kita menzhalimi seseorang pada darahnya,  harta atau kehormatannya, maka kita wajib untuk meminta maaf kepadanya  dan meminta kehalalan darinya atas kezhaliman kita.<br />
6. Bertaubat sebelum roh sampai ke tenggorokan (sakratul maut).<br />
7. Siksaan belum turun menimpa dirinya.<br />
8. Matahari belum terbit dari sebelah barat.<br />
[Fawaid Ammah 5 dari www.shrijhi.com]<br />
Wallahu a’lam.</p>
<p>sumber : al-atsariyyah.com</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pelakukesalahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pelakukesalahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pelakukesalahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pelakukesalahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pelakukesalahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pelakukesalahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pelakukesalahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pelakukesalahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pelakukesalahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pelakukesalahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pelakukesalahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pelakukesalahan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pelakukesalahan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pelakukesalahan.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pelakukesalahan.wordpress.com&amp;blog=9379372&amp;post=21&amp;subd=pelakukesalahan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelakukesalahan.wordpress.com/2009/12/14/shalat-taubat-dan-syaratnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dde645bc70caabd3e54cbb44c34bd2ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">attawwabuun</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
